Jakarta ikkela.com (29 Desember 2025) — Kementerian Kebudayaan RI secara resmi meluncurkan Platform Read Indonesia yang dapat diakses melalui readindonesia.id. Read Indonesia merupakan sebuah platform digital yang dirancang sebagai gerbang promosi sastra Indonesia ke tingkat global. Peluncuran berlangsung di Gedung A, Kompleks Kementerian Kebudayaan, Jakarta, oleh Menteri Kebudayaan, Fadli Zon.
Platform Read Indonesia merupakan inisiatif strategis yang diampu oleh Direktorat Promosi Kebudayaan, Direktorat Jenderal Diplomasi, Promosi, dan Kerja Sama Kebudayaan.
Kehadiran platform ini menjadi langkah konkret negara dalam menghadirkan sistem promosi sastra nasional yang lebih terencana, berkelanjutan, dan berorientasi internasional. Melalui satu ruang terintegrasi, Read Indonesia menyajikan informasi mengenai karya sastra Indonesia, profil penulis dan sastrawan, festival sastra, hingga capaian dan penghargaan, sebagai rujukan bagi publik global.
Dalam sambutannya, Menteri Kebudayaan menegaskan bahwa peluncuran Platform Read Indonesia bukan sekadar peluncuran sebuah kanal digital, melainkan penanda kehadiran negara dalam mengelola promosi sastra nasional secara lebih sadar dan bertanggung jawab. “Peluncuran Platform Read Indonesia ini menjadi penanda bahwa negara hadir secara lebih sadar, terencana, dan bertanggung jawab dalam mengelola promosi sastra nasional.
Ini bukan sekadar peluncuran sebuah platform digital, melainkan langkah awal menuju penguatan sistem promosi sastra Indonesia yang berkelanjutan dan berorientasi global,” ujar Menteri Fadli.
Menteri Kebudayaan menyampaikan bahwa penguatan promosi sastra sejalan dengan amanat Pasal 32 ayat (1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, yang menegaskan peran negara dalam memajukan kebudayaan nasional di tengah peradaban dunia.
“Salah satu upaya memajukan kebudayaan nasional di tengah peradaban dunia adalah melalui promosi kebudayaan, dan sastra merupakan bagian penting dari upaya tersebut. Sastra adalah salah satu dari sepuluh Objek Pemajuan Kebudayaan yang memiliki peran strategis dalam memperkenalkan nilai-nilai budaya Indonesia,” jelasnya.
Dirinya juga menyoroti besarnya potensi sastra Indonesia yang belum sepenuhnya dikenal di tingkat internasional, salah satunya akibat keterbatasan penerjemahan dan jejaring global.
“Potensi sastra kita sangat besar, tetapi salah satu tantangan utamanya adalah karya-karya tersebut belum banyak dikenal di dunia internasional. Karena itu, penguatan ekosistem sastra, termasuk penerjemahan dan penguatan jejaring global, menjadi agenda penting ke depan,” lanjut Menteri Kebudayaan.
Dalam konteks tersebut, Menteri Kebudayaan menjelaskan bahwa Platform Read Indonesia dirancang sebagai ruang rujukan yang memperkenalkan sastra Indonesia melalui karya dan para pelakunya, sekaligus menjadi jembatan yang menghubungkan penulis, penerbit, dan pembaca lintas negara.
Namun demikian, dirinya menegaskan bahwa platform ini bukanlah tujuan akhir, melainkan instrumen strategis yang perlu didukung oleh kebijakan yang tepat. “Platform ini bukan tujuan akhir.
Ia adalah instrumen strategis yang harus didukung oleh kebijakan kurasi yang kuat, program penerjemahan yang konsisten, serta penguatan kapasitas penulis dan penerbit nasional agar mampu berinteraksi dengan ekosistem global,” tegasnya.
Sementara itu, Direktur Jenderal Diplomasi, Promosi, dan Kerja Sama Kebudayaan, Endah T. D. Retnoastuti, dalam laporannya menyampaikan bahwa Platform Read Indonesia dirancang untuk menjawab kebutuhan akan ruang promosi sastra Indonesia yang terintegrasi dan mudah diakses oleh publik internasional.
“Karya-karya sastra Indonesia begitu kaya, tetapi selama ini belum memiliki satu ruang terintegrasi untuk mempromosikan para sastrawan, karya-karya mereka, festival sastra, serta capaian dan penghargaan yang diraih. Platform Read Indonesia kami rancang untuk menjawab kebutuhan tersebut,” jelas Endah.
Lebih lanjut, dirinya menambahkan bahwa sejak awal tahun 2025, Direktorat Jenderal Diplomasi, Promosi, dan Kerja Sama Kebudayaan telah membentuk Tim Promosi Sastra untuk merancang langkah-langkah promosi sastra Indonesia dari hulu ke hilir, termasuk fasilitasi keikutsertaan penulis dan penerbit Indonesia dalam berbagai forum sastra dan perbukuan internasional.
Terkait agenda strategis ke depan, Endah juga menyampaikan bahwa Indonesia akan mengemban peran penting di panggung perbukuan internasional pada tahun mendatang.
“Tahun depan, Indonesia akan menjadi Guest of Honour Abu Dhabi International Book Fair 2026 dan tentu program ini membutuhkan dukungan serta keterlibatan aktif para sastrawan, penulis, penerbit, dan mitra strategis,” ujarnya.
Pada kesempatan yang sama, Kementerian Kebudayaan juga meluncurkan sejumlah publikasi kebudayaan sebagai bagian dari penguatan ekosistem literasi dan promosi kebudayaan.
Publikasi tersebut meliputi buku The Wonder of Indonesian Wayang, buku Keramik Cina Temuan Sungai Musi, serta penerbitan Majalah Kultur yang dikelola oleh Direktorat Promosi Kebudayaan.
Buku The Wonder of Indonesian Wayang disiapkan dalam bahasa Inggris untuk memperluas jangkauan audiens internasional terhadap khazanah pewayangan Indonesia sebagai warisan budaya takbenda.
Sementara itu, buku Keramik Cina Temuan Sungai Musi mendokumentasikan jejak sejarah dan interaksi budaya maritim di Nusantara melalui temuan artefak keramik yang menunjukkan panjangnya tradisi perdagangan di wilayah Sungai Musi. Adapun Majalah Kultur diterbitkan sebagai ruang artikulasi gagasan, pemikiran, dan wacana kebudayaan, sekaligus memperkuat literasi budaya masyarakat.
Hadir sejumlah tokoh dalam acara tersebut, Ketua Persatuan Wayang Orang Indonesia (PEWANGI), Luluk Sumiarso; Ketua Union International de la Marionette (UNIMA), Dimas Samodra Rum; perwakilan Persatuan Pedalangan Indonesia (PEPADI), Trianto; Perwakilan.
Ketua Sekretariat Gamelan Indonesia (SGI), Eddy Karsito; perwakilan Ketua Sekretariat Nasional Pewayangan Indonesia (SENAWANGI), Imira Dewi; serta para sastrawan, budayawan, penulis, penerbit, dan pelaku literasi Tanah Air.
Turut hadir mendampingi Menteri Kebudayaan dalam peluncuran tersebut, Wakil Menteri Kebudayaan, Giring Ganesha Djumaryo; Staf Ahli Menteri Kebudayaan bidang Ekonomi dan Industri Budaya, Anindita Kusuma Listya; Staf Khusus Menteri Kebudayaan bidang Diplomasi Budaya dan Hubungan Internasional, Annisa Rengganis; Staf Khusus Menteri Kebudayaan bidang Hukum dan Kekayaan Intelektual, B.R.A. Putri Woelan Sari Dewi; serta Direktur Promosi, Undri.
Peluncuran Platform Read Indonesia menegaskan komitmen Kementerian Kebudayaan untuk terus memperkuat ekosistem sastra nasional melalui kolaborasi lintas pemangku kepentingan, serta menjadikan sastra sebagai bagian penting dari diplomasi kebudayaan Indonesia di kancah internasional.
Kehadiran platform ini diharapkan menjadi fondasi bagi sistem promosi sastra Indonesia yang lebih terstruktur, berkelanjutan, dan adaptif terhadap dinamika global, sekaligus membuka peluang kolaborasi yang lebih luas antara penulis, penerbit, dan pemangku kepentingan lintas negara. (rlsbch)