Ekosistem Musik Keroncong sebagai Penguatan Ruang Silaturahmi dan Regenerasi

0 28
Fadli Zon menerima audiensi jajaran Perkumpulan Keroncong Tugu di kantor Kementerian Kebudayaan, Jakarta.

Jakarta, Ikkela.com (09 Januari 2026) – Kementerian Kebudayaan menegaskan komitmennya dalam mendukung pelestarian dan penguatan ekosistem musik keroncong sebagai bagian tak terpisahkan dari identitas budaya Indonesia. Komitmen ini disampaikan oleh Menteri Kebudayaan Republik Indonesia Fadli Zon dalam kesempatan menerima audiensi jajaran Perkumpulan Keroncong Tugu di kantor Kementerian Kebudayaan, Jakarta.

Menteri Kebudayaan Fadli Zon menyampaikan dukungan atas ragam upaya pelestarian ekspresi musik, salah satunya keroncong. “Kita sangat mendukung keroncong karena ini musik Indonesia. Tinggal bagaimana kita membangun ekosistem keroncong Indonesia, kita membuka kerja sama dengan komunitas keroncong,” jelas Menbud Fadli.

Salah satu gagasan yang mengemuka dari Perkumpulan Keroncong Tugu ialah rencana penyelenggaraan pementasan musik bertajuk Lebaran Keroncong yang akan berlangsung di Jakarta. Kegiatan ini diinisiasi sebagai ajang silaturahmi antarkomunitas keroncong dan diharapkan menjadi lebaran keroncong pertama di Indonesia.

“Acara ini akan menampilkan 10 kelompok musik keroncong Jabodetabek, serta menghadirkan kelompok musik Keroncong Tugu sebagai representasi cikal bakal lahirnya musik keroncong di Indonesia,” jelas Daud Yahya selaku Pimpinan Keroncong Tugu.

Menanggapi rencana kegiatan, Menbud menilai konsep tersebut sangat baik sebagai wadah konsolidasi komunitas. Ia menambahkan, perlunya perencanaan secara matang terkait latar belakang lokasi penyelenggaraan, anggaran yang efisien, dan berorientasi pada kualitas.

Lebih lanjut, Menteri Kebudayaan menegaskan bahwa Kementerian Kebudayaan sangat mendukung pelestarian musik keroncong sebagai warisan budaya Indonesia. Menurutnya, tantangan utama saat ini adalah bagaimana membangun ekosistem keroncong yang kuat dan berkelanjutan, terutama dalam menjangkau generasi muda. Kementerian Kebudayaan membuka ruang kerja sama dengan komunitas keroncong, dengan pendekatan kolaboratif di mana komunitas menjadi penggerak utama, sementara pemerintah berperan sebagai fasilitator.

Sejalan dengan hal tersebut, Menbud turut menyinggung sejumlah langkah strategis yang dilakukan Kementerian Kebudayaan dalam penguatan musik keroncong. “Kami menyelenggarakan kegiatan Belajar Bersama Maestro (BBM) yang melibatkan Sundari Soekotjo, serta pemberian penghargaan kepada maestro keroncong, seperti Waldjinah,” tuturnya. Menbud menambahkan, Dana Indonesiana juga dapat dioptimalkan oleh para pelaku seni, di samping mekanisme pendukungan melalui public-private partnership.

Mengemuka pula pembahasan lebih lanjut mengenai pencatatan musik keroncong sebagai Intangible Cultural Heritage (ICH) UNESCO. Menurut Menbud, pencatatan Warisan Budaya Takbenda keroncong dapat diusulkan melalui skema extension-list. Mekanisme ini dilakukan melalui pengajuan bersama dengan negara lain. Upaya ini tak hanya memperluas pengakuan global terhadap suatu warisan budaya, tetapi juga memperkuat kerja sama antarnegara.

Dalam audiensi yang berlangsung, Menbud Fadli Zon didampingi oleh Staf Ahli Menteri Kebudayaan Bidang Hukum dan Kebijakan Kebudayaan, Masyithoh Annisa Ramadhani Alkatiri; Staf Khusus Menteri Kebudayaan Bidang Hukum dan Kekayaan Intelektual, Putri Woelan Sari Dewi; Direktur Warisan Budaya, I Made Dharma Suteja; dan Direktur Film, Musik, dan Seni, Syaifullah. Sementara itu, Daud Yahya selaku Pimpinan Keroncong Tugu didampingi oleh jajaran anggota Keroncong Tugu, yakni Ibnu Malik, Titi Hayati, dan Nuryah.

Ke depan, Kementerian Kebudayaan mendorong dilakukannya forum diskusi terpumpun yang membahas secara lebih mendalam arah kebijakan, penguatan jejaring, serta langkah konkret mewujudkan pelestarian keroncong. “Narasinya (keroncong) sudah kuat, tinggal komunitasnya menggerakan, kami memfasilitasi,” pungkas Menbud Fadli Zon. (bch*/)

Leave A Reply

Your email address will not be published.