Senegal Juara Piala Afrika dalam Final Penuh Drama dan Terancam Regulasi CAF
Rabat, Ikkela.com (20 Januari 2026) – Senegal keluar sebagai juara Piala Afrika setelah menaklukkan tuan rumah Maroko dengan skor 1-0 lewat perpanjangan waktu dalam laga final yang berlangsung penuh drama dan kekacauan, di Stadion Prince Moulay Abdellah, Rabat Senin (19/1/2026) dini hari WIB.
Gol penentu kemenangan dicetak Pape Gueye pada babak tambahan. Senegal sempat menolak melanjutkan pertandingan akibat keputusan wasit yang menghadiahkan penalti kontroversial bagi Maroko pada penghujung waktu normal.
Maroko memperoleh penalti pada menit kelima masa tambahan waktu babak kedua setelah Brahim Díaz dijatuhkan El Hadji Malick Diouf. Keputusan tersebut memicu kemarahan kubu Senegal.
Pelatih Pape Thiaw memimpin para pemainnya meninggalkan lapangan dan kembali ke ruang ganti sebagai bentuk protes.
Penalti tersebut baru dieksekusi hampir 20 menit kemudian setelah Senegal kembali ke lapangan. Díaz yang menjadi algojo gagal memanfaatkan peluang emas tersebut. Tendangannya terlalu lemah dan mudah diamankan kiper Senegal Edouard Mendy.
Kegagalan tersebut menjadi titik balik pertandingan. Pada babak perpanjangan waktu, tepatnya 3 menit setelah dimulai, Pape Gueye melepaskan tembakan keras dari luar kotak penalti yang bersarang pada sudut gawang Maroko sekaligus memastikan gelar juara kedua Senegal sepanjang sejarah Piala Afrika.
Selama 90 menit waktu normal, pertandingan sejatinya berjalan relatif seimbang. Senegal dan Maroko sama-sama menciptakan peluang, tetapi gagal memaksimalkannya. Situasi memanas pada babak kedua setelah benturan keras antara Diouf dan Neil El Aynaoui yang menyebabkan laga terhenti cukup lama dan menambah durasi waktu tambahan.
Senegal sempat mencetak gol pada awal masa tambahan babak kedua melalui Ismaïla Sarr, tetapi gol tersebut dianulir wasit karena pelanggaran ringan terhadap Achraf Hakimi dan keputusan yang semakin menyulut emosi para pemain Senegal.
Pada sisa perpanjangan waktu, Maroko masih memiliki peluang menyamakan kedudukan. Nayef Aguerd menanduk bola ke mistar gawang.
Sementara Senegal nyaris menambah gol melalui Cherif Ndiaye yang gagal memanfaatkan peluang emas. Peluit panjang akhirnya disambut perayaan besar para pemain Senegal.
Kemenangan ini mengukuhkan Senegal sebagai juara Afrika untuk kedua kalinya, setelah sebelumnya menjuarai turnamen edisi 2021. Gol Pape Gueye juga tercatat sebagai gol pertama Senegal yang tercipta di partai final Piala Afrika.
Secara statistik, Senegal melepaskan 14 tembakan dengan tujuh mengarah ke gawang dan mencatatkan nilai expected goals (xG) sebesar 1,75. Maroko unggul dalam jumlah tembakan dengan 20 percobaan dan xG 2,19, tetapi hanya tiga yang tepat sasaran.
Terancam Regulasi CAF
FIFA merilis pernyataan menyusul klaim mengejutkan bahwa Senegal kini terancam didiskualifikasi dan gelar juara Piala Afrika mereka dicabut akibat dugaan pelanggaran regulasi di final.
Menurut regulasi Konfederasi Sepakbola Afrika (CAF), seperti dikutip Express, tim yang meninggalkan lapangan tanpa izin wasit berisiko didiskualifikasi dari turnamen. Regulasi Piala Afrika pasal 64 menyebutkan:
“Jika, dengan alasan apa pun, sebuah tim mengundurkan diri dari kompetisi atau tidak hadir untuk menjalani pertandingan, kecuali dalam keadaan force majeure yang diterima oleh Panitia Penyelenggara, atau menolak melanjutkan pertandingan, atau meninggalkan lapangan sebelum pertandingan berakhir sesuai waktu normal tanpa izin dari wasit, maka tim tersebut akan dinyatakan kalah dan secara permanen didiskualifikasi dari kompetisi yang sedang berlangsung.”
Komentator ESPN Ian Darke turut mengecam tindakan Senegal di media sosial, dengan berkata di akun X (dulu Twitter) miliknya: “Saya mengagumi Senegal sebagai sebuah tim sepakbola yang hebat, tapi tidak bisa Anda meninggalkan lapangan, menunda laga sampai 17 menit, lalu dinyatakan juara Piala Afrika.”
“Harus ada hukuman atas tindakan anarkis ini. Laga ini semestinya digelar ulang atau Maroko dinyatakan pemenang dengan skor 3-0.” (bch*/)