Asdamba Kunci Komunikasi yang Tetap Dibutuhkan

Refleksi 72 Tahun IISIP Jakarta Oleh : Eko Suprihatno Praktisi Media

0 102

BEKASI IKKELA.COM (07/12/2025)

ANGKA 72 kalau mengacu pada kehidupan manusia tentu saja masuk kategori lanjut usia. Ia sudah mengenyam asam garam kehidupan, gelombang ujian hidup, yang pada akhirnya akan bermuara pada keparipurnaan.

Angka itu juga memiliki arti penting bagi sebuah lembaga pendidikan komunikasi tertua di Indonesia, Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (IISIP) Jakarta. Bagaimana tidak disebut tertua karena perguruan tinggi ini didirikan pada tanggal 5 Desember 1953, saat negeri ini belum mengenal tentang arti pendidikan komunikasi, terutama jurnalistik.

Awalnya IISIP Jakarta bernama Perguruan Tinggi Djurnalistik (PTD) yang didirikan oleh Perhimpunan Mahasiswa Akademi Wartawan yang dipimpin AM Hoeta Soehoet. Seperti dikutip dari laman iisip.ac.id, pada 20 Februari 1956 berdasarkan surat keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No. 12375/S bahwa lulusan PTD hingga tingkat bakaloreat diakui setara dengan lulusan perguruan tinggi negeri dan bergelar Bachelor of Arts (in Journalism & Social Sciences).

Secara perlahan perguruan tinggi yang dikenal sebagai produsen wartawan ini berganti nama menjadi Perguruan Tinggi Publisistik (PTP) dengan gelar sarjana terhadap para lulusannya. AM Hoeta Soehoet menjadi sarjana publisistik pertama pada 27 Juli 1962. Selanjutnya PTP beralih nama menjadi Sekolah Tinggi Publisistik (21 Oktober 1976), Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi (14 Mei 1985), dan terakhir pada 27 Juli 1985 beralih bentuk menjadi Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (IISIP) Jakarta.

Selama itu ada tiga jurusan yang menjadi urat nadi perguruan yaitu ilmu jurnalistik, ilmu hubungan masyarakat, dan ilmu penerangan. Saat ini sesuai dengan perkembangan di masyarakat hadir Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) dan Fakultas Ilmu Administrasi. Termasuk di dalamnya hadir Program Studi Pascasarjana Ilmu Komunikasi.

Punggawa media massa

Berkaca pada linimasa sejarah perguruan tinggi tersebut, barangkali tak berlebihan untuk mengatakan bahwa hampir di semua media massa di Indonesia ada alumni IISIP Jakarta sebagai punggawa. Ketika beragam media platform hadir, tak bisa dibantah masih dicat dengan sentuhan para alumni kampus yang berada di Jalan Lenteng Agung No.32 Jakarta Selatan ini.

Perkembangan komunikasi dan juga teknologinya tak bisa dipungkiri memberi warna baru dalam terbentuknya jurnalisme. IISIP pun mau tak mau harus berbenah demi berdamai dengan perubahan-perubahan tersebut. Tidak ada adagium yang menyebutkan bahwa tidak ada yang abadi di dunia ini kecuali perubahan.

Diawali dengan senja kala media massa cetak ketika dunia komunikasi mulai akrab dengan digital. Beragam koran, tabloid, dan majalah secara perlahan mulai berkembang karena perubahan pola perilaku masyarakat yang lebih suka mengakses media sosial. Sebagai pionir di bidang komunikasi negeri ini, IISIP pun harus beradaptasi. Itu sebabnya modifikasi perkuliahan pun mengalami perubahan dengan memberi ruang lebih pada proses praktik.

Modifikasi ini wajib dilakukan kalau tak ingin ketinggalan kereta. Terlebih lagi dari kampus inilah lahir istilah asdamba (5 W+1 H; apa, siapa, di mana, kapan, mengapa, dan bagaimana) yang merupakan mantera sakti jurnalistik. Media sosial boleh berjaya dengan segala macam keunggulan, tapi massa media tetap punya cara untuk bertahan hidup; etika jurnalistik dan kedalaman informasi.

Dari LA 32, begitulah para alumni menyebut kampus ini, tetap mempertahankan urat nadi jurnalistik tersebut. Disrupsi informasi banyak membuat masalah di masyarakat. Inilah yang mendasari bahwa asdamba tetap dibutuhkan sampai kapanpun. Dirgahayu IISIP Jakarta***

Leave A Reply

Your email address will not be published.