Jakarta Ikkela.com (15 Januari 2026) – Anggota Komisi VI DPR RI dari Fraksi Partai NasDem Asep Wahyuwijaya menilai, inisiatif pemerintah untuk mendirikan BUMN tekstil merupakan langkah yang tepat dan strategis. Menurutnya, sektor industri tekstil dan produk tekstil (TPT) itu merupakan salah satu industri padat karya. Memerlukan jumlah pegawai yang banyak.
“Konsekuensinya tentu akan menyerap jumlah tenaga kerja yang banyak. Berpeluang menurunkan jumlah pengangguran. Jadi, keinginan pemerintah yang dalam hal ini melalui Danantara untuk membentuk BUMN tekstil sangat strategis dan layak untuk didorong ketika industri TPT milik swasta pun banyak yang kolaps,” ungkap Asep Wahyuwijaya menanggapi rencana Pemerintah yang ingin membentuk BUMN tekstil.
Legislator NasDem dari Dapil Jawa Barat V (Kabupaten Bogor) itu juga menambahkan, dengan adanya BUMN Tekstil, bisa diharapkan keberadaan BUMN tekstil ini selain akan menyerap tenaga kerja yang banyak juga akan menjadi katalis kembali berjayanya industri tekstil di tanah air di tengah kemunduran industri TPT milik swasta.
“Tantangan terbesar dari industri TPT saat ini sebetulnya justru disebabkan oleh kebijakan yang dilakukan oleh pemerintah sendiri, yang dalam hal ini Kemendag. Hancurnya industri tekstil kita itu salah satunya kan karena disebabkan oleh begitu mudahnya Kemendag memberikan keleluasaan kepada importir tekstil dan produknya menjual barangnya di negeri kita,” terang Asep.
Di pasar-pasar tradisional daerah, tambah Asep, di toko-toko pakaian semacam ITC saja banyak sekali produk-produk baju yang memiliki tag bahasa China yang bisa langsung dijual bebas. Sampai pakaian bekas (thrifting) saja membludak.
“Sehingga, kita tentu berharap keberadaan BUMN tekstil ini, selain akan menyerap tenaga kerja yang banyak juga akan menjadi katalis kembali berjayanya industri tekstil di tanah air di tengah kemunduran industri TPT milik swasta,” jelas Asep.
Ketua DPP Partai NasDem ini juga mengingatkan, keinginan pemerintah untuk membuat BUMN tekstil semestinya juga harus memperhatikan upaya perbaikan dalam hal tata kelola industrinya.
“Saya tentu berharap, produk kita ini tidak hanya berorientasi ekspor dengan melakukan kerja sama dengan negara-negara Uni Eropa melalui IEU-CEPA atau negara-negara lainnya tapi juga bisa menjadi tuan rumah di negeri sendiri,” tukasnya.
Menurut Asep, BUMN tekstil ini selain memproduksi barang-barang berkelas untuk diekspor tapi juga harus memenuhi kebutuhan sandang dalam negeri yang harganya kompetitif namun berkualitas baik.
“Ini artinya, pemerintah pun tidak hanya membangun badan usahanya tetapi juga membenahi tata kelolanya sehingga industri tekstil swasta pun bisa kembali turut tumbuh,” pungkas Asep. (rorls/*)