Depok Ikkela.com (24/12/2025) – Imbauan Dinas Pendidikan Kota Depok yang mendorong ayah turut berpartisipasi dalam pengambilan rapor anak dinilai sebagai kebijakan sederhana namun berdampak besar terhadap penguatan mental, psikologis, dan karakter siswa, sekaligus menjadi langkah awal perubahan budaya pengasuhan keluarga di wilayah perkotaan.
Penilaian tersebut disampaikan Sekretaris Komisi D DPRD Kota Depok dari Fraksi PKB, Siswanto, SH, yang menyebut kebijakan itu sebagai bentuk investasi jangka panjang dalam pembangunan sumber daya manusia.
Menurut Siswanto, selama ini pola pengasuhan di kawasan perkotaan cenderung menempatkan ibu sebagai pihak paling aktif dalam pendidikan anak, sementara peran ayah kerap terbatas pada pemenuhan kebutuhan ekonomi. Padahal, keterlibatan ayah memiliki pengaruh signifikan terhadap pembentukan rasa percaya diri, kedisiplinan, serta motivasi belajar anak.
Ia menilai, momen pengambilan rapor bukan sekadar kegiatan administratif, melainkan ruang strategis untuk membangun komunikasi langsung antara orang tua dan pihak sekolah. Kehadiran ayah pada momen tersebut mengirimkan pesan kuat bahwa proses belajar anak mendapat perhatian serius dari kedua orang tua.
Siswanto juga membagikan pengalaman pribadinya saat mengambil rapor anak. Menurutnya, kehadiran ayah menciptakan suasana emosional yang positif, baik bagi anak maupun lingkungan sekolah.
“Anak-anak terlihat lebih ceria, percaya diri, dan bangga. Suasana sekolah pun menjadi lebih hangat karena terjalin interaksi positif antara ayah, anak, dan guru,” tuturnya.
Ia menambahkan, momen sederhana seperti berjalan bersama ayah ke sekolah, berdialog dengan guru, hingga memperkenalkan ayah kepada teman-teman menjadi pengalaman emosional yang membekas bagi anak.
Hal tersebut berkontribusi pada pembentukan karakter, rasa aman, serta keterikatan emosional anak terhadap proses belajar.
Selain berdampak positif bagi anak, kebijakan ini juga memberi manfaat bagi ayah. Dengan hadir langsung, ayah dapat memperoleh gambaran objektif dari guru mengenai capaian akademik anak, kelebihan yang dimiliki, serta aspek yang perlu mendapat pendampingan lebih lanjut di rumah.
Terkait siswa yang tidak memiliki ayah, Siswanto menilai pendampingan tetap dapat dilakukan oleh anggota keluarga laki-laki lainnya, seperti kakak atau kerabat dekat.
Ia juga memberikan apresiasi kepada para ibu tunggal yang memikul peran ganda dalam membesarkan dan mendidik anak.
“Ibu-ibu single parent adalah sosok luar biasa. Mereka memikul tanggung jawab besar terhadap pendidikan dan masa depan anak,” katanya.
Siswanto berharap imbauan ini tidak berhenti sebagai kebijakan administratif semata, melainkan menjadi awal perubahan budaya pengasuhan keluarga di Depok. Ia mengajak para ayah untuk meluangkan waktu pada momen-momen penting pendidikan anak, sepanjang tidak terkendala kewajiban pekerjaan.
Ke depan, keterlibatan ayah diharapkan menjadi praktik berkelanjutan yang didukung oleh lingkungan sekolah yang ramah keluarga. Dengan kolaborasi seimbang antara ayah, ibu, sekolah, dan pemerintah, pendidikan di Kota Depok diharapkan tidak hanya berorientasi pada capaian akademik, tetapi juga pada pembentukan karakter dan ketahanan mental anak.
Kebijakan sederhana ini pun dinilai sebagai pijakan penting dalam mewujudkan generasi Depok yang unggul secara intelektual, tangguh secara emosional, dan siap menghadapi tantangan masa depan. (Hetti beritasatoe.com)