Isra Mi’raj dan Urgensi Kepemimpinan Islam Global

Buletin Kaffah Edisi 427 (20 Rajab 1447 H/9 Januari 2026 M)

DEPOK IKKELA.COM (09 JANUARI 2026) OPINI DAKWAH

Peristiwa Isra Mi‘raj merupakan salah satu peristiwa paling monumental dalam sejarah Islam. Isra Mi‘raj bukan hanya peristiwa spiritual yang sarat mukjizat. Isra Mi‘raj juga mengandung pesan politik dan peradaban yang sangat mendalam. Isra Mi‘raj adalah penegasan bahwa Islam bukan sekadar agama ritual-individual, melainkan ideologi yang memimpin kehidupan manusia secara menyeluruh di bawah kepemimpinan global.

Dimensi Spiritual

Kewajiban shalat lima waktu merupakan salah satu pesan inti Isra Mi‘raj. Shalat adalah satu-satunya ibadah yang Allah SWT wajibkan secara langsung kepada Rasulullah ﷺ di Sidratul Muntaha tanpa perantara. Hal ini menunjukkan kedudukan shalat sebagai fondasi utama pembentukan manusia bertakwa yang layak memikul amanah besar kepemimpinan global. Allah SWT berfirman:

وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ

Mintalah kalian pertolongan dengan sabar dan shalat (TQS al-Baqarah [2]: 45).

Rasulullah ﷺ menegaskan bahwa shalat adalah amal pertama yang akan dihisab pada Hari Kiamat. Shalat sekaligus menjadi pembeda antara iman dan kufur. Selain itu, al-Quran juga menegaskan “fungsi sosial” shalat:

إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ

Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar (TQS al-‘Ankabut [29]: 45).

Dengan demikian shalat tidak hanya membentuk kesalehan individual. Shalat juga melahirkan manusia yang baik secara sosial seperti memiliki sifat jujur, amanah dan adil. Ini adalah di antara sifat-sifat yang diperlukan bagi kepemimpinan Islam.

Isyarat Kepemimpinan Islam Global

Dimensi politik Isra Mi‘raj tampak jelas ketika Rasulullah ﷺ memimpin shalat para nabi di Masjid al-Aqsha. Peristiwa ini bukan simbol kosong. Ia adalah isyarat ilahiyah tentang kepemimpinan Islam atas seluruh umat manusia dan seluruh risalah sebelumnya.

Prof. Dr. Rawwas Qal‘ah Ji menegaskan bahwa peristiwa ini adalah indikasi politik yang sangat kuat tentang kepemimpinan umat Islam atas dunia. Ia menulis bahwa imamah Rasulullah ﷺ atas para nabi merupakan isyarat kepemimpinan Islam atas seluruh agama dan bangsa setelah beliau diutus sebagai rasul terakhir (Rawwas Qal‘ah Ji, Qirâ’ah Siyâsiyyah li as-Sîrah an-Nabawiyyah, hlm. 75–83).

Isyarat ini kemudian terwujud secara konkret setelah Rasulullah ﷺ hijrah ke Madinah saat beliau menegakkan Negara Islam. Negara Islam tersebut memimpin masyarakat majemuk yang terdiri dari kaum Muslim dan non-Muslim. Demikian sebagaimana tertuang dalam Piagam Madinah (Watsîqah al-Madînah). Piagam ini antara lain mengatur hubungan sosial dan politik secara adil di bawah kepemimpinan Islam.

Khilafah: Realisasi Historis Kepemimpinan Islam Global

Setelah era Negara Islam di bawah kepemimpinan Rasulullah ﷺ, kepemimpinan Islam global mencapai bentuk institusionalnya dalam wujud Khilafah Islam. Sahabat Abu Bakar ash-Shiddiq ra. adalah khalifah pertamanya. Setelah wafat, Abu Bakar ash-Shiddiq digantikan oleh Sahabat Umar bin al-Khaththab ra. Pada masa Khalifah Umar bin al-Khaththab ra., Kota al-Quds—tempat yang pernah disinggahi Rasulullah ﷺ dalam peristiwa Isra Mi’raj—dibebaskan tanpa pertumpahan darah.

Khalifah Umar ra. menerima kunci kota tersebut dari Patriark Nasrani dengan penuh kehormatan. Ini adalah sebuah peristiwa yang diakui oleh sejarawan Muslim maupun non-Muslim sebagai teladan kepemimpinan yang adil dan beradab.

Akan tetapi, tragedi besar menimpa umat Islam ketika Khilafah dihancurkan pada 28 Rajab 1342 H (3 Maret 1924 M). Dalam pidatonya pada Peringatan Keruntuhan Khilafah, Syaikh ‘Atha’ bin Khalil Abu ar-Rasytah menyebut peristiwa ini sebagai “gempa dahsyat” yang menghancurkan kekuatan politik umat Islam dan membuka pintu penjajahan global.

Terkait itu Rasulullah ﷺ telah mengingatkan fungsi vital kepemimpinan Islam:

الْإِمَامُ جُنَّةٌ يُقَاتَلُ مِنْ وَرَائِهِ وَيُتَّقَى بِهِ

Imam (Khalifah) itu adalah perisai (pelindung); orang-orang berperang di belakangnya dan berlindung kepada dia (HR al-Bukhari dan Muslim).

Tanpa perisai ini, umat Islam terpecah menjadi puluhan negara lemah yang mudah dikendalikan, diintervensi bahkan dijajah. Itulah yang terjadi sejak Khilafah Islam diruntuhkan hingga saat ini.

Palestina yang dijajah Yahudi selama puluhan tahun hingga hari ini hanyalah salah satu contohnya. Padahal dulu, selama ratusan tahun, Palestina aman dan damai di bawah kekuasaan Khilafah Islam.

Kapitalisme Global: Zalim dan Gagal

Kekosongan kepemimpinan Islam global kemudian diisi oleh kepemimpinan Kapitalisme global yang saat ini dipimpin oleh Amerika Serikat (AS). Kepemimpinan ini terbukti melahirkan kezaliman sistemik. Ini karena sistem Kapitalisme global jelas tidak dibangun di atas wahyu. Kapitalisme berdiri di atas asas sekularisme—pemisahan agama dari kehidupan—yang menjadikan kepentingan materi, modal dan kekuasaan sebagai standar utama pengambilan keputusan.

Amerika Serikat (AS), sebagai pemimpin Kapitalisme global, secara konsisten menempatkan dirinya sebagai “polisi dunia”. Akan tetapi, faktanya peran ini bukan untuk menegakkan keadilan, melainkan untuk menjaga kepentingan geopolitik dan korporasi raksasa. Dukungan AS tanpa syarat terhadap genosida di Palestina, agresi militer AS ke Irak dan Afganistan, sanksi ekonomi AS atas sejumlah negara yang mencekik rakyat sipil hingga intervensi politik dan penculikan pemimpin negara berdaulat oleh AS seperti di Venezuela baru-baru ini menunjukkan wajah asli Kapitalisme global: yang kuat memangsa yang lemah.

Dalam kasus penculikan Presiden Venezuela Nicolas Maduro beserta istrinya pada Januari 2026 ini, tak satu pun dari lebih 190 negara di dunia berani menegur Amerika. Semua membisu karena takut. Para penguasa negeri-negeri Muslim pun memilih diam. Inilah bukti bahwa dunia hari ini hidup di bawah teror hegemoni Kapitalisme global.

Selain zalim, Kapitalisme global juga adalah ideologi yang gagal. Bahkan kegagalan Kapitalisme global ini disorot oleh para pemikir Barat sendiri. Joseph E. Stiglitz, peraih Nobel Ekonomi, misalnya, dalam Globalization and Its Discontents (2002), mengakui bahwa globalisasi kapitalistik yang dipimpin Amerika Serikat dan institusi seperti IMF justru memperparah kemiskinan, ketidakstabilan politik dan ketimpangan sosial di banyak negara berkembang. Ia menegaskan bahwa pasar bebas tanpa kendali moral dan keadilan hanya menguntungkan segelintir elit global.

Thomas Piketty, dalam karya monumentalnya, Capital in the Twenty-First Century (2014), juga membuktikan secara empiris bahwa kapitalisme modern secara sistematis memperlebar jurang antara si kaya dan si miskin. Saat tingkat pengembalian modal lebih besar dari pertumbuhan ekonomi, kekayaan akan terkonsentrasi pada oligarki, sementara mayoritas manusia tersingkir.

Bahkan Francis Fukuyama—pengusung tesis “babak akhir sejarah”—belakangan mengakui bahwa demokrasi liberal dan Kapitalisme global gagal menghadirkan keadilan dan stabilitas. Keduanya justru memicu krisis kepercayaan, populisme ekstrem dan kehancuran kohesi sosial.

Pengakuan para pemikir Barat ini menegaskan bahwa Kapitalisme global bukan hanya gagal secara moral menurut Islam, tetapi juga gagal secara empiris menurut ukuran ilmiah mereka sendiri.

Urgensi Kepemimpinan Islam Global

Islam tentu berbeda dan bertolak belakang dengan Kapitalisme. Ideologi Islam tidak membenarkan penjajahan, perampasan sumber daya, maupun pembunuhan massal demi kepentingan ekonomi atau politik. Dalam Islam, penguasa adalah pelayan umat dan penjaga hukum-hukum Allah SWT. Maka dari itu, ideologi Islam dengan kepemimpinan global Khilafah bukan sekadar alternatif, melainkan solusi peradaban yang rasional, historis dan manusiawi karena berbasis wahyu, bukan hawa nafsu.

Inilah sebabnya mengapa Islam—dalam bentuk kepemimpinan global (Khilafah)—menjadi ancaman ideologis terbesar bagi Kapitalisme global. Pasalnya, Islam menawarkan tatanan dunia alternatif yang adil, independen dan bebas dari dominasi modal serta hegemoni militer. Selama Khilafah belum tegak, dunia akan terus berada dalam lingkaran kezaliman global. Selama Kapitalisme memimpin dunia, keadilan sejati hanyalah slogan kosong.

Hanya saja, Menurut Prof. Dr. Rawwas Qal‘ah Ji, kepemimpinan Islam global mensyaratkan dua hal utama (Qal’ah Ji, Qirâ’ah Siyâsiyyah, hlm. 80). Pertama: Adanya sistem Islam yang diterapkan secara kâffah dalam seluruh aspek kehidupan. Ini sejalan dengan firman Allah SWT:

يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً

Wahai orang-orang yang beriman, masuklah kalian ke dalam Islam secara menyeluruh (TQS al-Baqarah [2]: 208).

Kedua: Adanya pemimpin yang amanah, yakni Khalifah yang menerapkan hukum-hukum Allah SWT secara kâffah. Bukan penguasa boneka yang tunduk pada kepentingan Barat.

Penutup

Selain kewajiban shalat lima waktu, Isra Mi‘raj mengandung pesan ilahiyah kepada umat Islam agar senantiasa menegakkan kepemimpinan Islam global (Khilafah). Khilafahlah—yang menerapkan syariah Islam secara kâffah—yang bakal mampu (sebagaimana dulu) mewujudkan keadilan sejati sekaligus memimpin manusia menuju kesejahteraan dan keridhaan Allah SWT. Apalagi Allah SWT telah menjanjikan kekuasaan bagi kaum beriman:

وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ

Allah telah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan beramal shalih bahwa Dia benar-benar akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi (TQS an-Nur [24]: 55).

Rasulullah ﷺ juga memberikan kabar gembira:

ثُمَّ تَكُونُ خِلَافَةً عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ

…Kemudian akan ada kembali Khilafah di atas manhaj kenabian (HR Ahmad).

Sebagai Muslim, kita semua wajib menyambut janji Allah SWT dan kabar gembira dari Rasulullah ﷺ ini. Caranya tentu dengan berjuang mewujudkan janji dan kabar gembira tersebut dengan sungguh-sungguh dan mengerahkan segala bentuk pengorbanan. Bukan dengan cara berpangku tangan. Apalagi menjadi penghalang perjuangan.

WalLâhu a‘lam bi ash-shawâb.

Hikmah:

Allah SWT berfirman:

وَقُلْ جَاءَ الْحَقُّ وَزَهَقَ الْبَاطِلُ إِنَّ الْبَاطِلَ كَانَ زَهُوقًا

Katakanlah, “Telah datang kebenaran dan lenyaplah kebatilan. Sungguh kebatilan itu pasti lenyap.” (TQS al-Isra’ [17: 81).

Comments (0)
Add Comment